Pagi Ini, KH Zainuddin MZ Tampil dalam Abdya Berzikir
* Bupati: Tidak Menggunakan Anggaran Pemerintah
Wakil Ketua Panitia Pelaksana Harian, Muslizar MT dan Bendahara, Drs Mohd Zain dihubungi Serambi, Minggu (10/4) kemarin menjelaskan, persiapan sudah rampung. Lapangan Pulau Kayu, Susoh sebagai lokasi acara sudah didirikan teratak di sekeliling lapangan. Ratusan kran air juga sudah dipasang sebagai tempat mengambil wudhuk bagi warga yang akan tumpah ke lokasi.
KH Zainuddin MZ dan KH Amiruddin Said bertolak dari Bandara Polonia Medan menggunakan pesawat Susi Air pukul 6.30 WIB, diharapkan mendarat di Bandara Kuala Batu, Susoh sekitar pukul 7.30 WIB. Setelah disambut Bupati Akmal Ibrahim bersama Angota Muspida dan tokoh masyarakat, dai sejuta ummat itu menuju Pendapa Bupati untuk sarapan pagi. Pukul 9.00 WIB menuju lapangan Pulau Kayu guna menyampaikan tablig akbar, diawali dengan zikir dipimpin KH Amiruddin Said.
“Abdya berzikir akan dihadiri lebih dari 10.000 ribu orang,” kata Muslizar. Diperkirakan bukan saja warga Abdya, malainkan juga warga Aceh Selatan dan Nagan Raya akan ikut hadir di sana.
Sementara Bupati Akmal Ibrahim menjelaskan, acara Abdya Berzikir tidak menggunakan anggaran pemerintah, melainkan sumbangan para danatur. “Sepeser pun dana pemerintah tidak kita gunakan untuk acara ini, tapi dari sumbangan para donator mencapai ratusan juta rupiah,” katanya.
Di samping sumbangan dana, juga ada menyumbang nasi bungkus, jumlahnya hingga Minggu pagi kemarin sudah terkumpul 4.000 bungkus nasi. Penjelasan tersebut disampaikan Bupati terkait informasi yang berkembang bahwa acara Abdya Berzikir menggunakan anggaran pemerintah.
Kegiatan bernuansa islami yang diprakarsai Bupati Akmal Ibrahim, itu merupakan upaya mendinginkan suasana yang memanas belakangan ini. “Secara politis ada keretakan dalam masyarakat. Dengan berdoa dan berzikir, diharapkan dapat mendinginkan suasana,” kata Bupati.
Bupati Akmal Ibrahim telah mengintruksikan kepada para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bersifat pelayanan dilarang menghadiri acara tersebut, seperti guru, dokter dan para medis lainnya. Larangan tersebut dimaksudkan agar proses belajar mengajar (PBM) di sekolah-sekolah tidak terganggu, dan pelayanan teradap masyarakat terlayani.
Bagi masyarakat yang menghadiri acara tersebut dianjurkan memakai pakai baju putih bagi kaum bapak, dan mukena (telekung) bagi kaum ibu, serta membawa sajadah.(nun)
0 komentar:
Posting Komentar