Selasa, 29 Maret 2011
Tunjangan Profesi Guru Agama di Abdya Masih Misterius
Posted by STRUKTUR
00.09, under Harian Aceh | No comments
Blangpidie | Harian Aceh – Tunjangan profesi guru agama Islam di wilayah Aceh Barat Daya (Abdya) untuk anggaran tahun 2010 hingga kini dilaporkan masih misterius, padahal data untuk penerimaan tunjangan tahun 2011 sudah mulai dikumpulkan.
Ketidakjelasan dana untuk tunjangan para pendidik di bidang keagamaan itu terjadi memasuki bulan keenam sejak puluhan guru agama di wilayah Abdya berdelegasi ke Kantor Kementerian Agama (Kanmenag) setempat untuk mempertanyakan status dana tunjangan profesi (sertifikasi) untuk tahun anggaran 2010 yang hingga saat itu belum mereka terima.
Padahal dana tersebut semestinya sudah harus dicairkan sejak periode semester awal Januari hingga Juni 2010 lalu. “Saat berdelegasi kita hanya mempertanyakan saja, kenapa kondisinya bisa seperti ini, apalagi waktu itu sudah masuk semester kedua, tapi hingga Maret 2011 ini kita masih belum mengetahui kejelasannya, semua persyaratan dan berkas seperti yang diminta juga sudah kami penuhi, sehingga rekan-rekan mempertanyakan ada apa dengan sertifikasi di Depag yang tidak memiliki kejelasan yang berbeda sekali dengan sertifikasi di departemen lain,” ungkap Mawardi, salah seorang peserta delegasi yang hadir pada hari itu.
Dikatakan Mawardi, tunjangan profesi (sertifikasi) untuk para guru Agama taahun 2010 lalu belum ada kejelasannya, akan tetapi pihak Kanmenag Abdya sudah mulai mendata penerima tunjangan itu untuk tahun 2011. “Kita dibuat seperti anak-anak yang minta permen, dijanjikan tapi tidak diberikan, ini sama artinya mendhalimi kami para guru agama,” sebutnya.
Sebelumnya lanjutnya, pihak Kanmenag Abdya sudah pernah menjanjikan tiga kali berturut-turut kepada para guru agama di Abdya kalau tunjangan tersebut akan segera dibayar tanpa masalah apa pun, bahkan janji terakhir dari pihak Kanmenag diucapkan dihadapan Kakanwil Depag Aceh. “Akan tetapi sama dengan janji-janji sebelumnya, kita hanya diberi mimpi-mimpi yang indah saja, tapi semuanya bohong,” pungkasnya.
Sayangnya hingga berita ini diturunkan, Harian Aceh belum berhasil mendpatkan keterangan dari Kakanmenag Abdya Syarbaini S.Ag, beberapa kali dihubungi ke ponselnya akan tetapi ponsel yang bersangkutan dalam keadaann tidak aktif.
Seperti diberitakan Harian Aceh sebelumnya Selasa (26/10) tahun 2010 lalu, Puluhan Guru Bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) di Aceh Barat Daya (Abdya) pada Senin (25/10) berdelegasi ke Kantor Kementerian Agama (dulu disebut Depag – Red) setempat mempertanyakan status dana tunjangan profesi (sertifikasi) untuk tahun anggaran 2010 yang hingga saat ini belum juga mereka terima,
Beberapa peserta delegasi mengungkapkan kekecewaan mereka terhadap kinerja Kandepag Abdya yang terkesan meng-anak tirikan guru-guru PAI sehingga tidak terurus, semestinya pihak Kandepag Abdya menurut para delegasi harus lebih pro-aktif menelusuri permasalahan yang terjadi dengan dana sertifikasi guru PAI yang hingga saat ini belum mereka terima itu.
Namun kenyataannya setelah beberapa kali mereka mempertanyakan nasib dana tersebut hingga sampai berdelegasi pada hari itu, masih belum juga didapatkan kejelasan dan titik terang kapan dana itu akan mereka terima. “Kita terkesan di-anak tirikan, jika memang ada kendala ataupun masalah yang menyangkut dengan proses sertifikasi itu semestinya kami dapat diinformasikan,” tutur Sabirin, salah satu anggota delegasi
Senada dengan Sabirin, Drs.H.Anzharuddin, dalam pertemuan dengan kepala Kanmenag Abdya dan jajarannya yang berlangsung di Aula kantor tersebut pada hari itu juga meminta agar persoalan sertifikasi guru PAI ini dapat lebih diperjelas dan dipermudah, baik dalam proses maupun pengelolaannya sehingga para guru tidak merasa terus menerus harus menunggu dan bekerja menyiapkan setiap bahan (berkas) tetapi sejauh mana kejelasannya tidak diketahui hasilnya.
Bahkan untuk dana sertifikasi tahun anggaran 2010 ini pihak guru sendiri belum mengetahui bagaimana nasibnya. “Apakah proses sertifikasi tersebut setiap tahunnya memang harus di SK kan? Atau bagaimana? Sedangkan kita sendiri sudah memiliki SK sejak beberapa tahun yang lalu, kondisi seperti ini tentu membuat kita para guru-guru menjadi kesulitan, apalagi informasi yang kita terima juga sedikit simpang siur,” Ujar Drs.H.Anzharuddin atau sering dipanggil Ustad Anzhar yang saat ini mengajar di SMA Negeri 1 Blangpidie. (fri)
0 komentar:
Posting Komentar