Badai Terjang Abdya, Lima Rumah Rusak
* Ratusan Boat Aceh Utara tak Melaut
![]() |
| Add caption |
Lima unit rumah warga Gampong Pulau Kayu dan Padang Baru, Susoh, Abdya rusak parah diterjang badai disertai hujan, Senin (28/3) sore. SERAMBI/ZAINUN
Kelima rumah yang rusak berat pada bagian atapnya itu masing-masing milik Anwar (40) berikut satu tempat pertukangan perabot, Safari (35) dan Hasanusi (40), warag Dusun Pasir, Gampong Pulau Kayu. Dua bangunan lainnya yang rusak di Dusun Cemara Indah, Gampong Padang Baru, adalah dapur rumah Narjo (45), keuchik gampong setempat dan kantin milik Jamaan alias Pakwo Miesoe (50).
Keterangan yang diperoleh Serambi dari para korban, Senin sore, badai disertai hujan lebat menerpa kawasan itu sekitar pukul 14.00 WIB. Diawali gemuruh, lalu terdengar suara berderak. Dalam sekejap bagian atap seng rumah itu tampak berterbangan, kemudian jatuh dalam jarak belasan meter, seperti yang dialami atap rumah Hasanuddin.
Sekitar seperempat atap seng pada rumah korban yang merupakan guru mengaji itu tampak dalam kondisi menganga alias bolong. Sebagian isi rumahnya, termasuk perabotan, basah diguyur hujan. Puluhan anak-anak tak dapat lagi memanfaatkan rumah tersebut sebagai tempat mengaji sejak Senin malam.
Kerusakan lebih parah dialami rumah Anwar yang bekerja sebagai tukang perabot. Separuh atap depan rumah korban bolong setelah seng bersama kerangkanya copot diterjang angin. Badai juga menumbangkan bangunan di depan rumah Anwar yang digunakan sebagai tempat bertukang. Sebagian isi rumah korban juga basah diguyur hujan.
Safari yang nelayan juga mengalami nasib yang sama, termasuk Jamaan alias Pakwoe Miesoe yang kehilangan bangunan kantin yang selama ini dia andalkan sebagai tempat mencari nafkah.
Amatan Serambi di lokasi kemarin sore, para pemilik rumah yang nahas mulai mengumpulkan atap seng yang diterbangkan angin. Di antaranya ada yang mulai memasang kembali atap seng agar rumahnya dapat digunakan sebagai tempat berteduh bersama anggota keluarganya.
Beberapa pejabat terkait tampak turun ke lokasi musibah dan berkoordinasi melakukan penanggulangan. Di antara pejabat yang melakukan pendataan adalah Kabid Bantuan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, Nazaruddin SPd MM bersama staf dan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Rahwadi AR bersama sejumlah staf.
Hingga berita ini diturunkan, Senin sore, hujan kembali mengguyur kawasan Abdya. Sehingga korban warga yang rumahnya rusak dihantam badai terpaksa menumpang di rumah-rumah keluarga atau tertangga terdekat.
Terganggu
Di sisi lain, hujan lebat disertai angin kencang yang melanda Abdya dan sekitarnya, sejak Senin pagi hingga kemarin sore, telah menyebabkan aktivitas nelayan di kabupaten itu terganggu. Tak hanya itu, masyarakat yang bermukim dan bercocok tanam di kawasan rawan banjir juga mengaku resah dan terancam kenyamananya karena aliran sungai yang menjadi sumber banjir di daerah itu hingga kini belum juga dibenahi atau dinormalisasi.
Munir Karo, tokoh muda Keude Baro yang dikonfirmasi Serambi, Senin (28/3) berharap perhatian pemerintah untuk segera menormalisasi aliran sungai tersebut demi menghindari banjir. “Percuma saja masyarakat berkoar-koar jika tidak ada tindak lanjut dari pemerintah. Segeralah tindak lanjuti sebelum terjadi kerugian besar seperti dalam kejadian banjir bandang di Tangse, Pidie,” ujarnya.
Sementara itu, Panglima Laot Wilayah Abdya, Daruddin mengaku, hujan lebat disertai angin kencang yang melanda Abdya dalam dua hari terakhir telah menyebabkan aktivitas para nelayan di kawasan itu, khususnya mereka yang menggunakan perahu robin saat melaut, jadi terganggu. Mereka tak berani melaut karena perahu mesinnya tak kuasa mengarungi ombak besar. Akibatnya, hasil tangkapan para nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujong Seurangga Susoh dan TPI Lhok Pawoh, Kecamatan Manggeng, berkurang drastis dari biasanya.
Pantauan Serambi, hujan lebat disertai angin kencang itu terjadi sejak Senin 03.00 WIB pagi dan mulai sedikit reda sekira pukul 16.00 WIB. Kendati demikian, masyarakat yang bermukim di kawasan rawan banjir masih tampak waswas dan cemas akan terjadinya banjir luapan di kawasan mereka.
Diterjang angin
Cuaca tak bersahabat juga melanda Lhokseumawe dan Aceh Utara, Senin kemarin. Cuaca buruk terjadi sejak dua hari terakhir, tapi kemarin terlihat makin ekstrem. Bahkan, angin kencang mengakibatkan atap gedung Kantor Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Kecamatan Geureudong Pase, ambruk.
Kantor yang berlokasi di Desa Dayah Seupeng itu, diterbangkan angin atapnya. Selain itu, pohon beringin juga tumbang dan menghancurkan teras maupun garasi rumah dinas Kepala SMPN 1 Geureudong Pase, M Ali.
Amatan Serambi, cuaca ekstrem mulai terasa pukul 16.00 WIB. Selama hampir setengah jam turun hujan deras di daerah permukiman transmigrasi, sehingga atap kantor PNPM maupun pohon beringin tumbang, kata M Nasir (45), warga Geureudong Pase.
Laporan serupa disampaikan Taufiqurahman SHI. “Beruntung tak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Secara kebetulan, kantor PNPM sedang kosong, begitu juga dengan rumah dinas kepala sekolah tersebut,” ungkap Taufiqurahman.
Pihaknya bersama Polsek Geureudong Pase sedang mendata apakah ada rumah lain yang hancur atau rusak akibat angin kencang tersebut. “Kami sedang lakukan pendataan. Namun, sejauh ini, baru kantor PNPM dan rumah dinas kepala sekolah itu yang rusak. Kita harap Pemkab Aceh Utara bisa melihat kondisi pascaangin kencang di daerah kami,” sebut Taufiqurahman.
Selain daerah pedalaman Krueng Pase, angin kencang dan hujan lebat juga melanda kawasan ibu kota Lhoksukon. Masyarakat terlihat tergesa-gesa mencari tempat berteduh dan menghindari angin kencang. Namun, sampai saat ini, tak ada korban rumah rusak dan korban jiwa akibat angin kencang di Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara.
Tidak melaut
Sementara para nelayan banyak yang menambatkan boatnya di dermaga Pusong, karena tak berani ke laut akibat cuaca ekstrem sepanjang Senin kemarin. Bahkan sejumlah nelayan yang telah turun ke laut hendak menangguk ikan, setelah dua jam berangkat terpaksa kembali ke darat.
Panglima Laot Aceh Utara, M Yusuf Sulaiman yang dihubungi mengatakan, ratusan nelayan Aceh Utara dan Lhokseumawe tak berani melaut kemarin. “Pada hari Minggu lalu ada juga boat yang lewat, tapi Senin hanya sebagian kecil saja,” kata M Yusuf yang mengaku boat miliknya juga tak melaut.
Menurut M Yusuf, nelayan daerah itu biasanya tiap hari mengarungi laut naik boat kecil sekitar 4 sampai 10 mil dari bibir pantai. Namun, boat besar melautnya sampai 40-65 mil. Selain menangkap ikan, mereka juga membuat tuasan/rumpon (rumah ikan).
“Karena kondisi cuaca seperti dua hari terakhir ini, sehingga tidak nelayan yang berani menantang badai. Lagi pula turun hujan deras disertai gelombang tinggi,” kata M Yusuf. (nun/tz/ib/c46)
Sumber Berita : http://aceh.tribunnews.com/news/view/52673/badai-terjang-abdya-lima-rumah-rusak

0 komentar:
Posting Komentar